Alibaba Cs Hati-hati Investasi di Metaverse, Kenapa?

Jakarta, CNBC Indonesia – Raksasa teknologi China mulai berinvestasi dalam metaverse. Namun demikian, sensor kemungkinan akan marak disertai regulasi ketat karena Negeri Tirai Bambu akan terus mengawasi praktik perusahaan teknologi domestik.

Seperti diketahui, perusahaan AS seperti induk Facebook, Meta, akan menerapkan konsep metaverse. Sementara Microsoft telah memosisikan akuisisi yang diusulkan atas perusahaan game Activision.

Sementara, perusahaan China mengambil pendekatan yang lebih hati-hati. Jadi apa yang mereka lakukan dan bagaimana regulasi akan berjalan?

Di China, total pasar metaverse bisa mencapai 52 triliun yuan. Demikian laporan Morgan Stanley dalam sebuah catatan yang diterbitkan bulan lalu.

Perusahaan seperti Tencent, NetEase, pemilik TikTok, ByteDance, dan Alibaba bisa menjadi yang terdepan di bidang ini di antara perusahaan internet China.

Metaverse disebut sebagai masa depan jejaring sosial. Semua raksasa teknologi China harus mengadopsinya untuk menemukan cara baru untuk melibatkan generasi pengguna internet dari generasi muda.

Itu bermuara pada jenis aplikasi yang bisa menjadi bagian dari metaverse. Analis mengatakan virtual reality, gim, dan media sosial dapat menjadi beberapa aplikasi awal. Ini mungkin termasuk hal-hal seperti membeli item virtual dalam gim atau membuat avatar digital diri sendiri untuk berpartisipasi dalam pertemuan.

“Semua raksasa teknologi China harus merangkulnya untuk menemukan cara baru untuk melibatkan generasi muda pengguna internet, yang sangat penting pada saat model bisnis mereka di smartphone dan internet seluler matang,” kata Winston Ma selaku Managing Partner di CloudTree Venture kepada CNBC Internasional, Senin (14/2/2022).

Seperti diketahui, UU anti-monopoli baru untuk platform internet diusulkan. Sementara UU perlindungan data pribadi yang penting telah disahkan.

China juga telah memangkas jumlah waktu anak-anak di bawah usia 18 tahun diizinkan untuk bermain gim daring.

Analis mengatakan, UU yang ada kemungkinan akan digunakan untuk mengatur aplikasi metaverse juga, bahkan ketika yang baru sedang dikembangkan.

“Keragaman aplikasi metaverse yang tipis berarti mengembangkan serangkaian kebijakan ‘satu untuk semua’ tidak akan layak untuk Beijing,” ujar Hanyu Liu selaku analis pasar China di Daxue Consulting.

(miq/miq)

Source : CNBC Indonesia

Recent News