Lepas Saham Alibaba, Softbank Dapat ‘Durian Runtuh’

Jakarta, CNBC Indonesia – Softbank membukukan peningkatan pendapatan pada kuartal II-2022. Semua ini berkat melepas saham raksasa e-commerce asal China, Alibaba.

Softbank memang harus mengalami masa suram. Dikarenakan mulai dari banyak saham perusahaan teknologi yang mengalami penurunan dan tindakan keras pemerintah China pada sektor teknologi.

Akhirnya Agustus lalu, raksasa investasi Jepang itu mengumumkan menjual sebagian saham Alibaba, dari yang sebelumnya 24% menjadi 15%.

Ternyata langkah tersebut membuat pendapatan Softbank pada kuartal II naik, dengan laba bersih 3,03 triliun yen (Rp 336,3 triliun). Sepanjang paruh pertama 2022, perusahaan harus mengalami kerugian bersih sebesar 129 miliar yen (Rp 14,3 triliun), diturunkan karena rekor kerugian bersih pada kuartal pertama, dikutip AFP, Jumat (11/11/2022).

Pada kuartal pertama, kinerja Softbank pada kuartal April-Juni terseret karena saham perusahaan teknologi global yang kalah. Ini dipicu oleh kenaikan suku bunga dari Federal Reserve Amerika Serikat (AS) serta bank sentral lain untuk mengatasi inflasi.

Iklim investasi suram menyebabkan kerugian pada investasi Softbank, dari aplikasi pengantaran makanan DoorDash hingga e-commerce Korea Selatan Coupang.

Fenomena itu berlanjut pada kuartal kedua. Di mana investasi pada dua pendanaan utama yang berfokus ke teknologi mengalami kerugian hampir 1,4 triliun yen (Rp 155,5 triliun)

CEO Masayoshi Son juga mengatakan nasib buruk tersebut nampaknya akan terus berlanjut pada startup teknologi. Sejalan dengan itu, Softbank memangkas personel di Vision Fund serta mengonfirmasi pada bulan September 30% penasihat investasinya akan dirumahkan.

Dalam konferensi pers post-result Softbank, Chief Financial Officer Yoshimitsu Goto mengatakan perusahaan belum tahu kapan masa sulit saham teknologi akan berakhir. Meski ada perubahan ke arah sedikit lebih positif, namun menurutnya Softbank sangat pesimis.

“Kami bisa menghasilkan banyak uang jika tahu kapan (harga saham) akan pulih, namun jujur kami tidak tahu,” jelasnya. Dia juga menambahkan sulitnya memprediksi masa depan karena ada situasi geoplitik yang terjadi.

Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
Source : CNBC Indonesia

Recent News